Letakanlah megahnya Safa
di atas pundakmu
lalu Marwah di sebelahnya,pergilah pada kekasihmu yang menunggumu setabah Ibrahim.
Bimbinglah kekasihmu menyinggahi lima benua,lalu merasuk kedalamnya
palung samudra,
hingga jadilah kekasihmu
setegar Fatimah.
Yerusalem!
Kenalkanlah pada kekasihmu jejak-jejak yang melekatinya dan beritakan pada kekasihmu akan romansa yang menunggangi Madinah,
wujudkanlah cinta pada kekasihmu dalam terangnya Mekah yang menjadikannya memiliki keutamaan Khadijah lalu menempatkan kedudukanmu di sisi Muhammad.
Kelak kekasihmu akan memilihmu karena kebaikan akhlaqmu dan kau menentukan kekasihmu sebagai bahtera doa untuk menuju Firdaus.
Namun sebelumnya kau akan terguling di dalam lembar Badar dan kekasihmu terkapar dalam ngilunya Uhud.
Maka,merangkaklah menuju Nabawi,lalu mengadulah di pangkuan Aqsha dan kumandangkan panggilan pada kekasihmu dalam keterjagaan Masjidil Haram,hingga serambi Arafah kembali mempertemukanmu lalu bernaunglah kalian dalam kasih Ar-Rahman Ar-Rahim.
Syair " ramadhan al fatih "
Inilah hatiku yang berisikan gandum&rempah. Ambilah! Tapi jangan hanya kau sentuh,kupaslah hingga bagian terdalam dan bau anyirnya. Inilah cintaku yang berisikan anggur&kurma. Milikilah! Tapi bukan sekedar kau simpan,sertakanlah dalam kepakan sayapmu terbang dan tergelincir. Milikilah aku! Meski tak setabah Asiyah,namun tak menjadikanku lupa diri. Sayangilah aku! Meski tak sesabar Ali,namun tak memperlakukanku bak Salman. " ramadhan al fatih "
Minggu, 11 Maret 2012
Sabtu, 10 Maret 2012
Mendepang Bayangan Rindu
Di ufuk langit petang kemarin,aku melihat kepingan hatimu tercecer terbawa angin yang kian lari tergesa-gesa.
Tak seorang pun tahu,bahkan anyelir hanya tersipu malu tersentuh lembut hawa nafasmu.
Aku tak menyimpan rahasiaku,sebab puisiku lepas menggelinding memerdekakan gelayut misteri dalam pikiranku. Karena cinta adalah hak,tanpa tuan atau budak dan tiada keterkhususan.
Sepenggal bulan yang melongok menyampaikan kabar sudut hati kerinduanmu,menyisir rambut gadis berkerudung lara,menyulam keseimbangan akan mimpi dan angan-angan.
Kau dan aku masih punya waktu,lirih buih alam memercikkan salam rindumu padaku.
Tunggulah kupinang dua,tiga harapan,maka seperti kata-kataku yang lalu. Bahwa kepergianku untuk menyusuri jalan kembali pada dekapanmu.
Tak seorang pun tahu,bahkan anyelir hanya tersipu malu tersentuh lembut hawa nafasmu.
Aku tak menyimpan rahasiaku,sebab puisiku lepas menggelinding memerdekakan gelayut misteri dalam pikiranku. Karena cinta adalah hak,tanpa tuan atau budak dan tiada keterkhususan.
Sepenggal bulan yang melongok menyampaikan kabar sudut hati kerinduanmu,menyisir rambut gadis berkerudung lara,menyulam keseimbangan akan mimpi dan angan-angan.
Kau dan aku masih punya waktu,lirih buih alam memercikkan salam rindumu padaku.
Tunggulah kupinang dua,tiga harapan,maka seperti kata-kataku yang lalu. Bahwa kepergianku untuk menyusuri jalan kembali pada dekapanmu.
Rabu, 22 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)