Sabtu, 10 Maret 2012

Mendepang Bayangan Rindu

Di ufuk langit petang kemarin,aku melihat kepingan hatimu tercecer terbawa angin yang kian lari tergesa-gesa.
Tak seorang pun tahu,bahkan anyelir hanya tersipu malu tersentuh lembut hawa nafasmu.

Aku tak menyimpan rahasiaku,sebab puisiku lepas menggelinding memerdekakan gelayut misteri dalam pikiranku. Karena cinta adalah hak,tanpa tuan atau budak dan tiada keterkhususan.

Sepenggal bulan yang melongok menyampaikan kabar sudut hati kerinduanmu,menyisir rambut gadis berkerudung lara,menyulam keseimbangan akan mimpi dan angan-angan.

Kau dan aku masih punya waktu,lirih buih alam memercikkan salam rindumu padaku.

Tunggulah kupinang dua,tiga harapan,maka seperti kata-kataku yang lalu. Bahwa kepergianku untuk menyusuri jalan kembali pada dekapanmu.